Makanan Penangkal Stres: Rahasia Sehat untuk Hidup Lebih Tenang

Stres dapat berdampak buruk pada kesehatan, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan tubuh dalam mengelola stres sangat penting untuk mendukung kesejahteraan fisik dan mental. Salah satu cara efektif dalam mengurangi stres adalah dengan menerapkan pola makan sehat. Konsumsi makanan bergizi dapat membantu menstabilkan suasana hati, mengurangi kecemasan, serta menekan gejala depresi.

Ikan berlemak seperti salmon, tuna, makarel, dan sarden kaya akan nutrisi yang bermanfaat dalam meredakan stres, termasuk omega-3, L-triptofan, L-tirosin, dan vitamin D. Asam amino seperti L-triptofan dan L-tirosin memiliki peran penting dalam produksi neurotransmiter yang mengatur suasana hati, seperti serotonin dan dopamin. Studi menunjukkan bahwa pola makan yang kaya akan asam amino ini dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental, membantu meningkatkan mood, serta menekan gejala kecemasan dan depresi.

Selain itu, kacang-kacangan seperti lentil memiliki manfaat signifikan dalam menjaga stabilitas emosi. Mengandung L-triptofan, magnesium, serat, serta antioksidan seperti polifenol dan karotenoid, kacang-kacangan diketahui dapat mengurangi stres oksidatif serta peradangan dalam tubuh. Penelitian tahun 2022 menunjukkan bahwa individu yang rutin mengonsumsi kacang-kacangan memiliki risiko stres tinggi lebih rendah hingga 26%.

Buah-buahan seperti beri, pisang, jeruk, apel, dan pir juga memiliki peran penting dalam mengatasi stres. Kandungan antioksidan, vitamin, dan mineralnya membantu meningkatkan fungsi kognitif serta mengurangi kecemasan. Studi menunjukkan bahwa konsumsi buah secara rutin dapat menekan risiko stres sebesar 24% hingga 31%.

Kenangan Manis Ramadan: Makanan Nostalgia yang Selalu Dirindukan

Bulan Ramadan selalu menghadirkan kenangan istimewa, terutama melalui berbagai hidangan khas yang hanya muncul di waktu-waktu tertentu. Setiap menu berbuka puasa tidak hanya berfungsi sebagai pelepas dahaga dan lapar, tetapi juga membawa nostalgia tentang kebersamaan keluarga dan tradisi turun-temurun. Salah satu makanan yang selalu menjadi favorit adalah kolak pisang. Hidangan ini menggabungkan pisang kepok matang, ubi, santan, gula aren, dan daun pandan, menciptakan aroma khas yang mengingatkan pada suasana rumah di masa kecil.

Selain itu, minuman segar seperti es buah dan es blewah juga tak pernah absen dari meja berbuka. Perpaduan buah-buahan segar dengan sirup manis serta es batu menghadirkan kesegaran yang sangat dinantikan setelah seharian berpuasa. Bubur sumsum pun menjadi pilihan banyak orang karena teksturnya yang lembut dengan siraman kuah gula merah yang memberikan rasa manis yang nikmat. Hidangan ini sering kali disajikan oleh orang tua atau nenek, membuatnya semakin bernilai secara emosional.

Tak kalah istimewa, jajanan tradisional seperti kue lupis dan kue jongkong juga menjadi favorit. Lupis dengan kelapa parut serta gula merah cair memberikan kombinasi rasa gurih dan manis yang menggoda, sementara kue jongkong dengan teksturnya yang lembut menghadirkan sensasi unik yang sulit dilupakan. Kurma dan kolang-kaling pun menjadi simbol Ramadan yang selalu dinantikan, baik dinikmati langsung maupun diolah menjadi sajian berbuka yang menggugah selera.

Martabak, baik manis maupun telur, juga menjadi primadona saat Ramadan tiba. Aromanya yang menggoda saat baru matang sering kali mengingatkan pada momen ngabuburit di pasar Ramadan. Setiap makanan yang hadir di bulan suci ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga menyimpan cerita dan kenangan indah yang selalu dirindukan. Apa makanan nostalgia favorit Anda saat Ramadan?

Nasi Tekor, Kuliner Tradisional Bali yang Hadirkan Nostalgia dalam Balutan Daun Pisang

Pulau Bali tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan budayanya, tetapi juga dengan kuliner tradisionalnya yang masih bertahan dari generasi ke generasi. Salah satu warung makan yang mempertahankan tradisi tersebut adalah Warung Nasi Tekor di Desa Kertalangu, Denpasar. Warung ini menawarkan pengalaman kuliner tempo dulu yang autentik, di mana seluruh sajian disiapkan dan disajikan dengan cara tradisional. Begitu memasuki warung, nuansa klasik langsung terasa melalui penggunaan bambu dan kayu sebagai elemen utama dekorasi, ditambah berbagai pernak-pernik bernuansa jadul yang semakin menghidupkan suasana khas Bali tempo dulu.

Nasi Tekor sendiri memiliki keunikan dalam penyajiannya. Tekor dalam bahasa Bali merujuk pada alas makan dari daun pisang yang dibentuk menyerupai kuncup segitiga. Pemanfaatan daun pisang ini tidak hanya sekadar mempertahankan nilai tradisi, tetapi juga memiliki manfaat fungsional. Daun pisang mampu mencegah kuah makanan menjadi terlalu kental serta memiliki sifat antimikroba yang baik untuk makanan. Resep autentik Nasi Tekor ini telah diperkenalkan oleh pemiliknya, Pande Nyoman Darta atau yang akrab disapa Pekak Tekor, sejak tahun 2015. Kehadiran warung ini tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai bagian dari pelestarian kuliner khas Bali melalui Boga Bali Living Museum, yang berfungsi sebagai sarana interaksi, edukasi, dan pengenalan budaya.

Dalam satu porsi Nasi Tekor, pengunjung dapat menikmati berbagai hidangan khas yang berbahan dasar ayam, seperti ares ayam yang merupakan sayur dari batang pisang muda, sate ayam, telur ayam, dan serapah ayam, yaitu olahan daging ayam setengah basah yang kaya bumbu. Tak hanya itu, ada pula aneka jajanan tradisional seperti godoh pisang, godoh sele, godoh tape, dan limpang limpung yang semakin menambah kesan nostalgia. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per porsi, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Warung Nasi Tekor saat ini buka dari pukul 08.00 WITA hingga 17.00 WITA, namun ke depannya Pekak Tekor berencana memperpanjang jam operasional hingga malam hari agar lebih banyak pengunjung dapat menikmati hidangan tradisional ini.

Bakmi Gang Kelinci: Perjalanan Kuliner Legendaris Sejak 1957

Sejak pertama kali berdiri pada tahun 1957, Bakmi Gang Kelinci telah menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang dikenal dengan cita rasa khasnya. Resep turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat keasliannya tetap terjaga hingga saat ini. Kenny Sukiman, pemilik generasi kedua Bakmi Gang Kelinci, menceritakan bahwa bisnis ini pertama kali dirintis oleh ibunya, Maya, yang awalnya berjualan di depan Bioskop Globe. Namun, akibat kebijakan pemilik gedung, ia terpaksa mencari tempat lain hingga akhirnya membuka usaha di rumah dengan saran dari kakek dan neneknya.

Dalam perjalanannya, usaha ini berkembang pesat hingga akhirnya berpindah ke belakang Kongsi Nomor 16, Pasar Baru, Jakarta. Popularitas Bakmi Gang Kelinci semakin meningkat, dan pada tahun 1975, keluarganya memutuskan untuk membuka gerai di lokasi yang lebih strategis. Meskipun mempertahankan resep asli, Kenny mengakui bahwa beberapa inovasi dilakukan dalam menu agar tetap relevan dengan selera pelanggan. Jika dahulu hanya menyajikan bakmi rebus, kini tersedia berbagai varian menu baru yang semakin beragam.

Saat ini, Bakmi Gang Kelinci menawarkan lebih dari seratus pilihan menu dengan harga yang tetap terjangkau. Salah satu menu andalannya adalah bakmi ayam seharga Rp38 ribu per porsi, atau Rp60 ribu untuk dua porsi dengan diskon Rp8 ribu. Kenny merekomendasikan bakmi spesial berbahan telur bebek yang memiliki tekstur lebih halus dan banyak diminati pelanggan. Selain bakmi, nasi goreng yang resepnya diwariskan dari sang ayah juga menjadi favorit banyak orang, menambah kekayaan cita rasa yang ditawarkan oleh Bakmi Gang Kelinci.

Bakso Solo Kidul Pasar: Legenda Kuliner Malang yang Bertahan Tiga Generasi

Kota Malang dikenal sebagai surga bagi pecinta bakso. Salah satu kuliner legendaris yang telah menjadi bagian dari sejarah kota ini adalah Bakso Solo Kidul Pasar, yang berdiri sejak tahun 1965. Warung bakso ini terkenal dengan cita rasa khasnya yang berasal dari kuah kaya rempah, meski pilihan isiannya lebih sederhana dibandingkan bakso Malang pada umumnya. Nama Bakso Solo Kidul Pasar sendiri diambil dari kisah pendirinya, almarhum Suparno, yang berasal dari Solo.

Awalnya, Suparno sempat berjualan bakso di Jember selama lima tahun, namun usahanya terhenti. Tak menyerah, ia memulai kembali bisnis baksonya di Malang, tepatnya di selatan Pasar Besar Malang—lokasi yang kemudian menginspirasi nama “Kidul Pasar.”

“Dulu, kakek memulai usaha ini dengan gerobak di pinggir jalan,” ujar Seto Sindu Mardi, cucu Suparno yang kini menjadi generasi ketiga penerus usaha keluarga tersebut. Seiring waktu, bisnis bakso ini terus berkembang. Pada tahun 1990, warung utama pindah ke Jalan Sartono SH, daerah Comboran, yang kini menjadi pusat utama usaha. Cabang lainnya kemudian dibuka di Jagalan, Jalan Halmahera (1996), Blimbing (1997), dan Karangploso (2015), yang dikelola oleh paman Sindu.

Di usia 25 tahun, Sindu mulai diberikan tanggung jawab untuk melanjutkan bisnis keluarga ini. Meski baru terlibat sekitar 30 persen dalam pengelolaan—terutama di bidang pemasaran dan penyelenggaraan acara—ia terus belajar untuk mempersiapkan diri. Sementara itu, operasional harian masih dikelola oleh ayahnya, Mardi Pawirosemito.

Warisan Ilmu dan Tantangan Generasi Ketiga

Bagi Sindu, bisnis ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan keluarga yang harus dijaga dan dilestarikan. Di tengah keluarganya yang banyak berkarier sebagai dokter dan pegawai, ia memilih untuk meneruskan usaha bakso yang dirintis kakeknya.

“Kalau kakek dulu memulai dari nol, masa cucunya tidak mau melanjutkan? Saya pribadi tidak terpikir untuk menekuni bidang lain. Fokus saya tetap di bisnis ini,” ungkapnya. Sejak kecil, Sindu sudah akrab dengan suasana warung, termasuk membantu orang tuanya berbelanja ke pasar.

Ia menyadari bahwa generasi ketiga memiliki tantangan tersendiri dalam mempertahankan bisnis keluarga. “Generasi ketiga itu yang paling rentan. Risiko kegagalan tinggi, tapi kalau punya strategi dan komitmen, bisnis bisa terus bertahan,” jelasnya. Saat ini, Sindu tengah menyelesaikan studi S2 di Universitas Brawijaya Malang sambil tetap mempelajari seluk-beluk bisnis keluarga.

Setiap hari, Bakso Solo Kidul Pasar menghabiskan sekitar 80 kilogram daging sapi, di mana setiap kilogramnya dapat menghasilkan sekitar 80 butir bakso—tergantung kualitas daging yang digunakan. Untuk memenuhi selera pelanggan, warung ini terus berinovasi. Salah satu contohnya adalah penambahan menu pangsit goreng pada tahun 2006, yang awalnya dibuat untuk konsumsi pribadi, tetapi justru diminati pelanggan hingga kini.

“Mempertahankan bisnis bukan hanya soal menjaga resep turun-temurun, tetapi juga memahami ritme usaha, mulai dari produksi hingga pelayanan. Ada tradisi lama yang harus dipertahankan, tetapi kami juga perlu beradaptasi dengan cara baru agar tetap relevan,” kata Sindu.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah mempelajari pola konsumsi pelanggan. Sebagai contoh, produksi bakso dikurangi pada hari Senin karena jumlah pelanggan biasanya lebih sedikit, sedangkan pada akhir pekan, produksinya ditingkatkan. Selain itu, faktor musim hujan dan masa liburan juga memengaruhi jumlah produksi.

Inovasi Digital dan Ekspansi ke Pasar Global

Untuk menjawab kebutuhan pelanggan di era digital, Bakso Solo Kidul Pasar mulai memanfaatkan platform online tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional bisnis keluarga. Sejak tahun 2023, mereka mulai memasarkan produk frozen yang dapat dikirim ke berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke Italia dan Hong Kong.

“Awalnya, ada pelanggan dari luar kota yang ingin menikmati bakso kami. Papa sempat bertanya, ‘Le, ada yang pesan frozen, gimana?’ Akhirnya, kami coba jalankan, meski awalnya banyak tantangan,” ujar Sindu.

Selain layanan frozen, promosi bisnis ini kini memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan website resmi. Namun, Sindu tetap mempertahankan metode promosi klasik, seperti dari mulut ke mulut, yang selama ini terbukti efektif. “Kami tidak menggunakan gimmick berlebihan. Prinsip kami adalah pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan,” jelasnya.

Meski banyak bisnis kuliner yang berkembang melalui sistem franchise, Bakso Solo Kidul Pasar memutuskan untuk tetap dikelola oleh keluarga. Pesan sang kakek agar tidak melibatkan pihak luar dalam pengelolaan usaha ini menjadi prinsip yang terus dijaga. “Papa sangat idealis, dan saya juga. Kami lebih memilih menjaga kualitas dan cita rasa daripada membuka cabang sembarangan. Kalau ada rezeki untuk buka cabang baru, kami akan melakukannya dengan cara yang benar,” tegas Sindu.

Meski kini tersedia layanan pembelian online, sebagian besar pelanggan tetap memilih datang langsung ke warung untuk merasakan cita rasa bakso yang autentik sambil menikmati suasana khasnya. “Banyak pelanggan luar kota yang datang ke sini setelah melihat rekomendasi di media sosial. Setelah makan, mereka mengunggah pengalaman mereka, dan itu membantu promosi kami secara organik,” tutup Sindu.

Perut Punai: Camilan Manis Khas Bengkulu yang Unik dan Bikin Ketagihan

Bengkulu memiliki beragam kuliner tradisional yang memanjakan lidah, salah satunya adalah Perut Punai. Meski namanya terdengar unik, makanan ini sama sekali tidak menggunakan daging burung punai. Perut Punai merupakan camilan berbahan dasar ketan yang memiliki rasa manis dengan tekstur kenyal, sehingga banyak digemari oleh masyarakat setempat. Hidangan ini kerap disajikan dalam berbagai acara adat dan perayaan keluarga di Bengkulu.

Nama Perut Punai diambil dari bentuk kuenya yang menyerupai perut burung punai—bulat lonjong dan lembut di bagian dalam. Kuliner ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bengkulu sejak zaman dahulu dan terus dilestarikan secara turun-temurun. Selain menjadi sajian wajib dalam acara seperti pernikahan dan kenduri, kue ini juga sering disantap sebagai camilan saat bersantai bersama keluarga.

Bahan utama untuk membuat Perut Punai sangat sederhana dan mudah ditemukan, antara lain beras ketan, santan, gula merah, kelapa parut, serta daun pandan. Proses pembuatannya dimulai dengan mencuci bersih beras ketan, lalu merendamnya selama beberapa jam agar teksturnya menjadi lebih lembut. Setelah itu, ketan dikukus hingga matang dan dicampur dengan santan serta sedikit garam untuk memberikan rasa gurih.

Sementara itu, isian dibuat dari gula merah yang dicairkan dan dicampur dengan kelapa parut. Campuran ini dimasak hingga mengental dan mengeluarkan aroma harum yang khas. Selanjutnya, adonan ketan yang telah matang diambil secukupnya, diisi dengan campuran gula merah dan kelapa, kemudian dibentuk lonjong menyerupai perut burung punai. Adonan yang sudah dibentuk dibungkus menggunakan daun pisang agar tetap lembut dan memiliki aroma khas. Terakhir, Perut Punai dikukus kembali atau dipanggang sebentar untuk memberikan cita rasa yang lebih lezat dan daya tahan yang lebih lama.

Saat ini, Perut Punai masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional Bengkulu. Popularitasnya pun semakin meningkat seiring dengan upaya pemerintah daerah dan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) dalam mempromosikan kuliner khas ini melalui berbagai festival makanan dan promosi pariwisata. Bahkan, beberapa pengusaha telah mengemas Perut Punai dengan tampilan yang lebih modern agar menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dengan rasa manis yang khas, tekstur lembut, dan keunikan bentuknya, Perut Punai berhasil memikat hati banyak orang. Diharapkan, kuliner tradisional ini dapat terus dilestarikan dan semakin dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Bengkulu yang membanggakan.

Nikmati Berbuka Puasa dengan Cita Rasa Nusantara dan Timur Tengah di Artotel Casa Kuningan

Menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah, Artotel Casa Kuningan di Jakarta Selatan menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang istimewa bertajuk “Waktunya Indonesia Berbuka”. Mengusung konsep “Like a Local”, acara ini mengajak para tamu menikmati aneka hidangan khas Nusantara yang autentik, disajikan dalam suasana hangat dan nyaman di restoran La Gazette yang terletak di Lobby Level hotel.

Para tamu dapat mencicipi berbagai kuliner tradisional Indonesia, seperti asinan bogor, gado-gado, opor ayam, iga bakar, coto makassar, dan soto tangkar. Selain sajian khas Nusantara, tersedia juga menu khas Timur Tengah, seperti nasi briyani dan beef tikka masala, yang menghadirkan perpaduan cita rasa yang kaya dan beragam.

Tak lengkap rasanya berbuka puasa tanpa hidangan takjil. Artotel Casa Kuningan menyediakan beragam pilihan takjil, mulai dari buah kurma, aneka bubur manis, kolak, es buah, hingga jajanan pasar yang menggugah selera. Salah satu menu favorit yang banyak disukai adalah nasi liwet khas Sunda, yang disajikan dengan ikan asin dan lalapan, menghadirkan cita rasa gurih yang khas.

Untuk menjaga kepuasan para tamu, hotel bintang empat ini memastikan setiap hidangan disiapkan dengan bahan berkualitas tinggi dan standar kebersihan yang ketat. Agar pengalaman berbuka semakin berkesan, menu yang disajikan akan berganti setiap minggunya, sehingga tamu dapat menikmati variasi rasa yang berbeda setiap kali berkunjung.

Paket berbuka puasa ini ditawarkan dengan harga Rp 288.000 nett per orang. Namun, bagi tamu yang melakukan reservasi sebelum 28 Februari 2025, tersedia harga khusus early bird senilai Rp 249.000 nett per orang. Selain itu, tersedia juga promo spesial “Buy 8 Get 1 Free”, di mana setiap pemesanan untuk delapan orang akan mendapatkan satu paket tambahan secara gratis.

Jangan lewatkan kesempatan menikmati hidangan lezat dan suasana berbuka yang berkesan ini! Paket berbuka puasa di Artotel Casa Kuningan tersedia mulai 1 hingga 30 Maret 2025. Segera lakukan reservasi agar tidak kehabisan tempat.

Keladi Tumbuk: Kuliner Tradisional Papua yang Lezat dan Menggugah Selera

Berkunjung ke Papua tak lengkap rasanya tanpa mencicipi berbagai kuliner khasnya, salah satunya adalah keladi tumbuk. Hidangan tradisional ini dikenal sebagai makanan pengganti nasi yang menjadi favorit masyarakat Bumi Cenderawasih.

Keladi tumbuk dibuat dari talas yang direbus hingga matang, kemudian ditumbuk hingga halus. Mengutip dari Ensiklopedikuliner.pmb.lipi.go.id, keladi tumbuk biasanya disajikan pada malam hari dan dulunya hanya dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Namun, seiring berjalannya waktu, hidangan ini mulai dijual di berbagai daerah di Papua dan menjadi bagian dari wisata kuliner yang wajib dicoba.

Proses Pembuatan dan Cita Rasa
Untuk membuat keladi tumbuk, talas yang telah direbus ditumbuk bersama gula, mentega, dan kelapa parut yang telah dikukus. Setelah tercampur merata, adonan dicetak hingga dingin dan siap disajikan. Biasanya, keladi tumbuk dipotong dalam bentuk kotak-kotak besar sebelum disantap.

Hidangan ini memiliki tekstur yang halus dengan cita rasa cenderung tawar, sehingga sering dinikmati bersama aneka sayur dan lauk. Sayur yang umum disajikan sebagai pelengkap meliputi sayur pakis atau kangkung yang dipadukan dengan bunga pepaya. Sementara itu, lauk pendampingnya bervariasi, mulai dari ikan suwir asap, ikan rica-rica yang pedas, hingga ikan kuah kuning khas Papua. Tak lupa, sambal pedas turut disajikan untuk menambah sensasi rasa yang lebih menggugah selera.

Dengan perpaduan rasa yang sederhana namun kaya akan cita rasa alami, keladi tumbuk menjadi salah satu kuliner tradisional yang wajib dicoba saat menjelajahi keindahan budaya Papua.

6 Minuman Sehat yang Bantu Bersihkan Paru-Paru dari Polusi dan Asap Rokok

Setiap hari, tubuh terpapar polusi udara, asap rokok, dan zat berbahaya lainnya yang dapat merusak paru-paru serta memicu gangguan kesehatan serius. Oleh karena itu, menjaga kesehatan organ pernapasan menjadi hal penting demi kesejahteraan tubuh secara keseluruhan. Salah satu cara alami yang dapat dilakukan adalah dengan mengonsumsi minuman sehat yang membantu membersihkan paru-paru. Salah satunya adalah jus lobak yang dikenal mampu meredakan peradangan pada saluran pernapasan dan melumasi paru-paru. Berdasarkan Chinese Nutrition, kandungan vitamin A dalam lobak tidak hanya baik untuk kesehatan paru-paru, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan mata. Mengonsumsi lobak dalam bentuk jus mempermudah penyerapan nutrisi oleh tubuh. Selain itu, bawang putih yang meski terdengar tidak lazim untuk dijadikan minuman, memiliki sifat antibiotik alami, antivirus, dan antibakteri. Mengutip jurnal National Library of Medicine, senyawa organosulfur dalam bawang putih memberikan efek positif bagi kesehatan paru-paru dan sistem kardiovaskular. Untuk mengurangi rasa pahitnya, bawang putih dapat dikonsumsi bersama bahan makanan lain.

Jahe juga menjadi pilihan alami untuk mengatasi penumpukan lendir di paru-paru akibat polusi atau asap rokok yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman. Berdasarkan penelitian dari Jurnal Ilmu Kedokteran Turki, jahe terbukti efektif melindungi paru-paru dari kerusakan akibat peradangan dan hiperoksia serta dapat menjadi alternatif alami untuk mengatasi Bronchopulmonary Dysplasia (BPD). Selain itu, teh akar licorice telah lama dikenal memiliki manfaat untuk kesehatan paru-paru. Menurut Journal Herbmed Pharmacol, ekstrak akar licorice mampu mengurangi kerusakan kimia dan jaringan yang terjadi pada penyakit pankreatitis akut (AP). Sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antiapoptosis dalam akar licorice berperan penting dalam melindungi jaringan paru-paru dari kerusakan sel. Kunyit juga menjadi pilihan tepat karena kandungan kurkuminnya mampu meredakan cedera paru-paru dan fibrosis akibat paparan radiasi, obat kemoterapi, dan racun. Berdasarkan penelitian dari National Library of Medicine, rebusan kunyit dapat membantu melancarkan pernapasan serta meredakan gejala flu dan hidung tersumbat berkat sifat antibakteri dan antiradangnya. Terakhir, teh hijau yang kaya antioksidan mampu mengurangi peradangan pada paru-paru dan melindungi jaringan organ pernapasan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Nutrition menunjukkan bahwa orang dewasa yang rutin mengonsumsi dua cangkir teh hijau setiap hari memiliki fungsi paru-paru yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak meminumnya.

Dengan mengonsumsi minuman-minuman ini secara rutin, kesehatan paru-paru dapat terjaga meskipun terpapar polusi atau asap rokok setiap hari. Pastikan untuk tetap menjalani gaya hidup sehat dan memperhatikan lingkungan sekitar demi menjaga kesehatan pernapasan jangka panjang.

Rahasia Panjang Umur: Dari Matcha Jepang Hingga Whisky Nenek 106 Tahun

Memiliki umur panjang dengan kondisi sehat adalah impian banyak orang. Selain faktor genetik, gaya hidup sehat dan pola makan bergizi turut berperan besar dalam mencapai impian tersebut. Beberapa masyarakat di berbagai belahan dunia dikenal memiliki harapan hidup tinggi berkat kebiasaan makan yang sehat dan seimbang.

Di Jepang, matcha atau bubuk teh hijau menjadi salah satu rahasia panjang umur. Minuman ini kaya akan vitamin C, vitamin B, serat, protein, dan polifenol yang berfungsi melawan peradangan serta melindungi tubuh dari kerusakan sel. Selain matcha, orang Jepang juga gemar mengonsumsi makanan fermentasi seperti miso, yang kaya akan probiotik untuk mendukung pencernaan dan mengurangi risiko penyakit.

Sementara itu, penduduk Lembah Hunza di Pakistan dikenal memiliki rata-rata harapan hidup hingga 100 tahun. Salah satu kunci kesehatannya terletak pada konsumsi minyak aprikot yang diekstrak dari biji aprikot. Minyak ini mengandung senyawa amygdalin yang diyakini mampu melawan kanker dan peradangan. Penduduk Hunza juga menghindari makanan olahan, lebih memilih daging segar serta sayuran organik seperti bayam, tomat, dan kentang yang dipetik langsung dari kebun mereka.

Namun, panjang umur tidak hanya bergantung pada makanan sehat. Kebahagiaan dan menikmati hidup juga memegang peranan penting. Hal ini tercermin dari kisah Florence Hackman, seorang nenek berusia 106 tahun dari Ohio, Amerika Serikat. Florence mengaku bahwa rahasia umur panjangnya adalah menikmati minuman favoritnya, Fireball whisky—minuman whisky yang dipadukan dengan rasa kayu manis. “Saya suka whisky Fireball dan tahun lalu saya merayakan ulang tahun bersama keluarga dan teman-teman dengan minuman ini,” ujarnya.

Dari matcha yang menyehatkan hingga whisky yang membahagiakan, kunci umur panjang ternyata terletak pada keseimbangan antara menjaga tubuh tetap sehat dan menikmati hidup dengan penuh suka cita.