Bubur Suro: Tradisi Ramadan di Palembang yang Sarat Makna

Di bulan Ramadan 1446 Hijriah, umat Islam di berbagai daerah memeriahkan bulan suci ini dengan tradisi khas masing-masing. Salah satu tradisi yang tetap lestari adalah pembagian Bubur Suro di Kota Palembang. Tidak sekadar menjadi hidangan berbuka puasa, Bubur Suro memiliki makna mendalam tentang kebersamaan dan semangat berbagi yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini berawal dari Masjid Al-Mahmudiyah, atau yang lebih dikenal dengan Masjid Suro, yang terletak di kawasan 30 Ilir, Palembang. Konon, kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam dan terus dilestarikan hingga saat ini.

Setiap hari selama Ramadan, setelah salat Ashar, Bubur Suro dibagikan kepada masyarakat sekitar. Proses pembuatannya melibatkan pengurus masjid serta warga yang bergotong-royong memasak dan mendistribusikan bubur kepada masyarakat. Salah satu pengurus Masjid Suro, Akbar, mengungkapkan bahwa setiap harinya sekitar 70 porsi Bubur Suro disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa tradisi ini bukan sekadar membagikan makanan, tetapi juga merupakan bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.

Tak hanya dinikmati oleh warga setempat, Bubur Suro juga menarik perhatian masyarakat dari luar daerah yang sengaja datang untuk mencicipi hidangan khas ini. Beberapa di antaranya bahkan membawa bubur ini pulang sebagai oleh-oleh. Akbar menambahkan bahwa kehadiran masyarakat dari berbagai daerah semakin memperkuat nilai kebersamaan dan keberagaman dalam tradisi ini. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Bubur Suro menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Palembang.

Surabi dan Bandrek: Menyantap Kuliner Jadul yang Melekat di Hati Bandung

Bandung, 2025 – Menyantap kuliner tradisional Bandung, rasanya tak lengkap tanpa mencicipi Surabi dan Bandrek. Dua sajian legendaris ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kuliner Bandung dan terus menarik perhatian para penikmatnya. Surabi, dengan tekstur lembut dan rasa khasnya, serta Bandrek yang hangat dan pedas, menjadi simbol kehangatan masa lalu yang tak terlupakan.

Surabi dan Bandrek bukan sekadar makanan; keduanya merupakan perjalanan rasa yang membawa kita bernostalgia ke era yang lebih sederhana. Ketika disantap, Surabi dengan santan hangatnya dan Bandrek dengan rasa pedas yang menggugah, menyentuh memori tentang tradisi yang selalu hidup di setiap gigitannya.

Warisan Kuliner yang Tak Pernah Pudar oleh Waktu

Kendati dunia kuliner modern berkembang pesat, Surabi dan Bandrek tetap bertahan dengan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun. Tidak banyak yang tahu bahwa meski jumlah kedai yang menjual kuliner ini tidak sebanyak dahulu, Surabi dan Bandrek tetap eksis dan digemari. Salah satu tempat yang menyajikan kedua kuliner legendaris ini adalah Kedai Surabi SFS Family Group, yang berlokasi di kawasan kaki Gunung Manglayang.

Kedai ini menawarkan pengalaman kuliner yang unik dengan suasana yang kental dengan nuansa tradisional. Terletak di Jalan Cigagak Cipadung, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, kedai ini hadir dengan interior sederhana yang terbuat dari bambu dan kayu. Desain tersebut membawa pengunjung pada kenangan masa lalu yang hangat. Keindahan panorama Kota Bandung yang terlihat dari kedai ini, ditambah dengan udara sejuk kaki Gunung Manglayang, semakin memperkaya pengalaman kuliner yang penuh nostalgia.

Menu Surabi yang Menggoda Selera

Di Kedai Surabi SFS Family Group, pengunjung dapat menikmati berbagai varian Surabi dengan pilihan rasa yang menggoda. Menu favorit di sini adalah Surabi Telur Oncom yang dipadukan dengan Bandrek hangat, namun masih banyak pilihan lainnya, seperti Surabi Oncom Coklat, Gula Aren, Keju Susu, hingga Surabi Telur Seblak. Harganya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp 4.000 hingga Rp 8.000 per buah, menjadikannya pilihan yang pas untuk dinikmati kapan saja.

Selain Surabi, Bandrek yang disajikan di kedai ini memiliki cita rasa hangat yang sedikit pedas, membuatnya cocok dinikmati di pagi yang dingin atau malam hari. Menu minuman lainnya juga tersedia, seperti Jeruk Lemon Hangat, Kelapa Muda, Susu Jahe, hingga Kopi. Harga minuman di sini berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 6.000, sesuai dengan jenis dan ukuran minuman yang dipilih.

Proses Pembuatan yang Otentik dan Aroma yang Menggugah

Salah satu keistimewaan Surabi SFS Family Group adalah cara pembuatannya yang otentik. Surabi dibakar menggunakan arang kelapa dan kayu bakar, memberikan aroma khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Proses pembakaran ini juga memberi cita rasa yang lebih hangat dan lezat, menambah kenikmatan setiap suapan Surabi yang disajikan secara dadakan.

Suasana yang Menggugah Nostalgia

Kedai Surabi SFS Family Group, yang didirikan pada tahun 2020 oleh Bapak Cahyana bersama keluarganya, memang menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh pencinta kuliner tradisional. Dikenal dengan suasananya yang tenang dan asri, tempat ini tidak hanya cocok untuk santap pagi, tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan untuk menikmati city light Kota Bandung pada malam hari.

Meskipun berada di pinggiran kota, kedai ini selalu ramai pengunjung, terutama pada akhir pekan. Banyak pengunjung yang datang setelah berolahraga, seperti jogging atau bersepeda, atau sekadar mencari tempat untuk menikmati kuliner khas Bandung.

Surabi SFS Family Group tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman yang mengingatkan kita akan kekayaan kuliner tradisional yang terus hidup di tengah modernitas. Jika Anda berkunjung ke Bandung, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati Surabi dan Bandrek legendaris yang selalu berhasil menghadirkan kenangan manis di setiap gigitannya.

Sensasi Kuliner di Resinda Hotel Karawang: Perpaduan Rasa dari Berbagai Belahan Dunia

Resinda Hotel Karawang menghadirkan pengalaman kuliner istimewa bagi para tamu dengan tiga restoran yang menyajikan hidangan dari berbagai negara, mulai dari Jepang, China, hingga Indonesia. Hotel bintang empat ini baru saja memperkenalkan beberapa menu terbaru yang siap memanjakan lidah. Salah satu restoran yang patut dikunjungi adalah Inaho Restaurant, yang menyajikan hidangan khas Jepang dengan cita rasa autentik. Beberapa menu andalan yang diperkenalkan di antaranya crunchy salmon roll, sushi dengan topping salmon dan kremes yang menggugah selera, serta beef hambagu stick yang disajikan bersama telur mata sapi dan saus khas Jepang. Tidak ketinggalan, beef corn salad dengan saus wijen serta sushi yuki dengan potongan ikan segar seperti tuna dan salmon turut melengkapi daftar menu baru yang wajib dicoba.

Bagi pecinta masakan China, Hai Wang Restaurant menghadirkan sajian autentik yang kaya rasa. Salah satu menu andalan terbaru adalah beancurd seafood in X.O sauce yang menggabungkan udang, cumi, tahu, dan ikan kerapu dalam paduan rasa manis dan pedas. Selain itu, ada Malaysian noodle dengan cita rasa manis yang khas, salad bebek dengan saus mangga yang menyegarkan, serta dumpling Sichuan yang berisi udang dan cumi panggang terasi. Untuk pencuci mulut, pancake durian musang king siap menjadi pilihan manis yang menggoda.

Sementara itu, bagi pencinta kuliner Nusantara, The Oryza menyajikan hidangan khas yang kaya rempah. Salah satu menu spesialnya adalah udang bakar kalio dengan saus rempah yang kuat, serta Thai duck red curry yang memadukan rasa kari khas Thailand dengan kerenyahan daging bebek. Tidak ketinggalan, gohu tuna Ternate yang segar serta mie siam salmon menjadi pilihan lain yang menarik. Dengan berbagai pilihan menu dari tiga restoran ini, Resinda Hotel Karawang menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan bagi siapa saja yang ingin menikmati sajian lezat dari berbagai belahan dunia.

Sensasi Buka Puasa Nusantara di Vivere Hotel, Artotel Curated

Buka puasa bukan sekadar menghilangkan rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen penuh kebersamaan yang dinantikan banyak orang. Untuk merayakan momen istimewa ini, Yin and Yum All Day Dining di Vivere Hotel, Artotel Curated Gading Serpong menghadirkan paket spesial bertajuk “Waktunya Indonesia Berbuka”. Konsep ini mengajak para tamu untuk menikmati kelezatan kuliner khas Nusantara dengan cita rasa autentik dalam semangat “act like a local”.

Beberapa hidangan andalan yang disajikan antara lain Ayam Betutu, Tongseng Daging, Ikan Masak Woku, serta berbagai pilihan makanan khas daerah lainnya. Tengku Edward Suren, Food & Beverage Manager Vivere Hotel, Artotel Curated, menyatakan bahwa tahun ini pihaknya ingin lebih menonjolkan menu lokal yang sesuai dengan cita rasa daerah. Tamu juga dapat menikmati hidangan khas Tangerang, seperti Nasi Gonjreng dan Laksa, yang semakin memperkaya pengalaman berbuka puasa.

Selain sajian Nusantara, tersedia pula hidangan khas Timur Tengah seperti Shawarma Ayam, Nasi Briyani, dan Butter Chicken Curry yang melengkapi menu berbuka. Berbagai hidangan ini disajikan dalam buffet yang mencakup makanan pembuka seperti gorengan dan kurma hingga makanan penutup seperti aneka kue dan chocolate fountain. Salah satu menu yang paling direkomendasikan adalah Soto Mie Bogor, dengan kuah kaldu gurih yang kaya rempah serta sensasi pedas yang menggugah selera.

Untuk menambah suasana hangat, tamu akan ditemani musik akustik setiap Jumat dan Sabtu pada minggu kedua dan ketiga Ramadan. Penawaran spesial juga tersedia, seperti promo Pay 4 Get 5 seharga Rp 228.000++ per orang pada minggu pertama dan keempat Ramadan, serta paket banquet Rp 258.000 untuk acara berbuka dalam jumlah besar.

Jalakotek Majalengka, Camilan Gurih yang Bikin Ketagihan

Jalakotek adalah camilan khas Majalengka yang memiliki cita rasa gurih, asin, dan pedas. Makanan ini dibuat dari campuran tepung terigu dan tepung tapioka sebagai bahan utama. Di dalamnya terdapat isian yang terdiri dari tumisan tahu, ayam cincang, tauge, atau wortel yang dicampur dengan sambal, memberikan sensasi rasa yang kaya dan lezat. Setelah digoreng, jalakotek semakin nikmat dengan tambahan taburan bubuk cabai kering atau sambal yang membuatnya semakin menggugah selera, terutama jika disantap selagi hangat.

Kuliner ini cukup populer di kalangan masyarakat Majalengka, terutama anak muda dan pencinta kuliner. Majalengka sendiri merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di utara. Keberadaan jalakotek menambah kekayaan kuliner daerah tersebut dan menjadi salah satu makanan ringan favorit warga lokal.

Bagi yang ingin mencoba membuat jalakotek sendiri di rumah, langkah pertama adalah menyiapkan bahan-bahannya. Untuk kulitnya, diperlukan campuran tepung tapioka, tepung terigu, air panas, serta sedikit garam dan kaldu bubuk. Sedangkan isiannya dibuat dari tahu kuning yang dipotong kecil-kecil, wortel, bawang putih, cabai merah keriting, cabai rawit, serta bumbu pelengkap seperti garam, gula, dan merica.

Proses pembuatan jalakotek dimulai dengan menghaluskan bawang putih dan cabai sebagai bumbu isian. Tumis bumbu tersebut hingga harum, lalu masukkan wortel dan masak hingga empuk. Setelah itu, tambahkan tahu, aduk merata, dan beri bumbu sesuai selera. Untuk kulitnya, campurkan semua bahan dan uleni dengan air panas sedikit demi sedikit hingga kalis. Setelah adonan siap, bagi menjadi beberapa bagian dan pipihkan dengan rolling pin. Tambahkan satu sendok makan isian di tengah, lalu lipat dan rapatkan pinggirannya seperti pastel.

Setelah jalakotek siap dibentuk, panaskan minyak goreng dalam jumlah yang cukup. Goreng hingga warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan, lalu angkat dan tiriskan. Agar semakin lezat, tambahkan taburan bubuk cabai kering atau sambal sesuai selera. Jalakotek siap disajikan dan dinikmati sebagai camilan lezat kapan saja.

Rahasia Kaledo Stereo Tetap Diminati, Cita Rasa Autentik Jadi Kunci

Wahyuni, pemilik Kaledo Stereo, mengungkapkan rahasia di balik kesuksesan usahanya dalam mempertahankan popularitas kuliner khas Palu. Menurutnya, menjaga cita rasa autentik adalah kunci utama agar tetap diminati oleh masyarakat. Kaledo sendiri merupakan hidangan berkuah seperti sup, tetapi berbeda dari kebanyakan sup lainnya karena tidak menggunakan santan. Sebagai gantinya, kuahnya dibuat dengan asam Jawa mentah yang menciptakan perpaduan rasa asam, gurih, dan pedas yang khas serta menggugah selera.

Proses memasak kaki sapi sebagai bahan utama Kaledo memerlukan waktu hingga empat jam untuk menghasilkan daging yang benar-benar empuk dan mudah disantap. Selain itu, sumsum yang terdapat dalam tulang kaki sapi menjadi salah satu daya tarik utama hidangan ini. Untuk menikmatinya, pelanggan dapat menggunakan sedotan yang disediakan agar bisa merasakan sensasi sumsum yang lembut dan kaya rasa. Kaledo biasanya disantap bersama nasi putih atau singkong rebus, tergantung selera masing-masing pelanggan.

Dengan porsi yang besar dan mengenyangkan, pelanggan hanya perlu membayar Rp70.000 untuk menikmati seporsi Kaledo yang lezat. Saat ini, Kaledo Stereo memiliki dua cabang yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso dan Jalan Pue Bongo, Palu. Bahkan, Wahyuni tengah bersiap membuka cabang baru di kawasan pegunungan agar pelanggan bisa menikmati hidangan khas ini dengan suasana alam yang lebih sejuk dan berbeda. Keunikan cita rasa dan pengalaman kuliner yang ditawarkan menjadikan Kaledo Stereo sebagai salah satu tujuan favorit pencinta kuliner di Palu.

Lezatnya Kuliner Khas Curup Kereta, Daya Tarik Wisata di Way Kanan

Curup Kereta di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, merupakan destinasi wisata yang menawarkan pesona alam sekaligus kekayaan kuliner khas yang menggugah selera. Selain panorama air terjun yang memukau, kawasan ini dikenal dengan hidangan tradisional yang selalu menarik perhatian wisatawan, terutama pindang baung dan pindang patin. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Curup Kereta, Meza Jaya, mengungkapkan bahwa kedua hidangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Namun, kuliner khas ini umumnya hanya tersedia saat kawasan wisata tengah ramai dikunjungi.

Pindang baung dan pindang patin disajikan bersama seruit, hidangan khas Lampung yang memberikan sensasi rasa pedas dan asam yang khas. Olahan ini menggunakan bumbu tradisional yang kaya rempah, menciptakan cita rasa yang begitu nikmat. Meza menuturkan bahwa keunikan rasa dari kuliner ini kerap membuat wisatawan ketagihan dan ingin kembali mencicipinya saat berkunjung ke Curup Kereta.

Keberadaan kuliner khas ini tidak hanya menambah daya tarik wisata, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kuliner Lampung kepada wisatawan. Meza berharap bahwa dengan terus mempromosikan makanan tradisional, jumlah kunjungan ke Curup Kereta dapat terus meningkat. Pindang baung dan pindang patin yang berpadu dengan seruit tidak hanya menyajikan cita rasa khas daerah, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang lebih berkesan. Dengan segala daya tariknya, Curup Kereta siap memberikan kepuasan bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mencicipi kuliner autentik.

Kari Rp 21 Ribu vs Rp 2,1 Juta: Mark Wiens Berikan Komentar Menarik

Food vlogger terkenal, Mark Wiens, kembali mengeksplorasi kuliner khas Thailand yang menggugah selera. Kali ini, ia membandingkan dua hidangan kari dengan perbedaan harga yang mencolok, yakni kari kaki lima seharga Rp 21 ribu dan hidangan premium seharga Rp 2,1 juta.

Dalam video yang diunggahnya, Wiens pertama-tama mencicipi kari murah di sebuah warung kaki lima bernama Pa Tim Thai Curry. Warung ini terkenal dengan berbagai hidangan khas Thailand, termasuk kari dengan isian seafood yang melimpah.

Meskipun harganya terjangkau, porsi dan kualitas bahan yang digunakan sangat mengesankan. Kari tersebut berisi potongan cumi berukuran besar, udang segar, serta ayam bumbu petai yang dimasak dengan rempah dan bawang putih melimpah.

“Isiannya benar-benar banyak, ada ayam berbumbu petai yang aromanya kuat dan khas,” ujar Wiens. “Rasa kari ini pedas, gurih, dengan sedikit manis, dan bawang putihnya sangat terasa. Sangat lezat!” tambahnya.

Selain kari, ia juga mencoba cumi yang diisi daging ayam cincang, menciptakan tekstur unik seperti sosis. Sementara itu, udang berbumbu bawang putih dan saus tiram memberikan rasa gurih yang membuatnya semakin menikmati hidangan ini.

Setelah puas dengan kari kaki lima, Wiens melanjutkan petualangan kulinernya ke restoran mewah Wana Yook yang menawarkan pengalaman makan kelas atas. Di tempat ini, ia mencicipi menu Khao Gaeng Wana Yook, yaitu paket nasi kari premium yang dibanderol Rp 2,1 juta per porsi.

Set menu ini terdiri dari beberapa hidangan, termasuk kari ayam dengan bumbu rempah kuat, beef salad berbahan wagyu yang lembut, Go Pad Kra (tumis daging kodok dengan basil), serta crispy duck egg dengan tekstur creamy yang menggugah selera.

“Karinya sangat kaya rasa, ada perpaduan rempah seperti lengkuas, cabai, dan jeruk nipis yang memberikan aroma smoky yang khas,” kata Wiens.

Beef salad berbahan wagyu juga menjadi favoritnya karena tekstur daging yang juicy dan lembut, dipadukan dengan ketumbar, bawang merah, air kelapa, serta perasan jeruk nipis yang memberikan sensasi segar.

Sementara itu, Go Pad Kra menawarkan rasa gurih manis dengan potongan daging kodok yang ditumis sempurna bersama basil khas Thailand. Hidangan ini memberikan cita rasa unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Sebagai pelengkap, crispy duck egg yang bagian kuningnya masih setengah matang memberikan sensasi creamy saat disantap bersama nasi dan taburan bawang merah serta daun bawang.

“Kombinasi kriuk dari bawang dan kecap ikan dengan kuning telur yang creamy sangat unik. Rasanya benar-benar fenomenal!” ujar Wiens.

Dari dua pengalaman kuliner yang berbeda ini, Wiens menyimpulkan bahwa masing-masing hidangan memiliki daya tarik tersendiri. Kari kaki lima menawarkan rasa otentik dengan harga terjangkau, sementara hidangan mewah di Wana Yook menghadirkan pengalaman kuliner premium dengan kualitas terbaik.

Lotek Macan, Kuliner Legendaris yang Tetap Eksis di Bandung

Warung Lotek Macan telah menjadi ikon kuliner di Kota Bandung sejak tahun 1970-an. Berlokasi di Jalan Macan No. 1, tempat makan berwarna hijau mencolok ini selalu ramai dipadati pelanggan. Lotek yang disajikan di warung ini dikenal memiliki cita rasa khas yang membuat pengunjung terus berdatangan dari waktu ke waktu.

Lotek Macan terdiri dari campuran sayuran seperti kangkung, toge, kacang panjang, dan labu yang telah dimasak terlebih dahulu. Ciri khas dari lotek ini terletak pada bumbu kacangnya yang diulek secara tradisional dengan bahan-bahan seperti kacang tanah, terasi, kencur, dan gula merah. Perpaduan ini menciptakan rasa gurih dan manis yang memanjakan lidah.

Harga satu porsi lotek di Warung Lotek Macan dibanderol antara Rp22 ribu hingga Rp25 ribu untuk versi komplit. Meskipun harganya cukup terjangkau, kualitas rasa yang ditawarkan tetap membuat pelanggan merasa puas. Selain lotek, warung ini juga menyajikan menu lain seperti gado-gado, nasi gulai, nasi rawon, dan mie kocok. Namun, lotek tetap menjadi hidangan paling favorit di antara pelanggan setia.

Pemilik warung, Brandt Suripatty, mengatakan bahwa cita rasa yang disajikan di warung ini disesuaikan dengan lidah orang Sunda. Salah satu menu yang mendapat sentuhan lokal adalah rawon yang memiliki rasa khas berbeda dari versi aslinya. Warung Lotek Macan buka setiap hari mulai pukul 09.30 hingga 16.30 WIB, termasuk akhir pekan. Kelezatan lotek dan beragam hidangan lainnya selalu menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung yang datang untuk menikmati sajian legendaris ini.

Demi Nasi Lemak Idaman, Pria Ini Terbang ke Kuala Lumpur

Nasi lemak telah menjadi salah satu kuliner ikonik Malaysia. Seorang pria asal Singapura bahkan rela melakukan perjalanan ke Kuala Lumpur hanya untuk menikmati kelezatan nasi lemak autentik.

Di Indonesia, ada hidangan seperti nasi uduk dan nasi kuning yang populer. Sementara itu, Malaysia memiliki nasi lemak sebagai salah satu hidangan khasnya. Nasi lemak sendiri merupakan nasi yang dimasak dengan santan dan daun pandan, sehingga menghasilkan aroma yang harum dan cita rasa yang gurih.

Biasanya, nasi lemak disajikan dengan berbagai lauk pendamping seperti ikan bilis, kacang goreng, irisan mentimun, telur rebus, serta sambal yang khas.

Karena letak geografisnya yang berdekatan, nasi lemak juga cukup populer di Singapura. Namun, banyak orang berpendapat bahwa nasi lemak di Malaysia memiliki cita rasa yang lebih lezat dibandingkan dengan versi Singapura.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang influencer asal Singapura bernama Darshen. Dalam sebuah video di akun TikTok-nya, ia mengungkapkan kekagumannya terhadap nasi lemak Malaysia yang menurutnya jauh lebih enak dibandingkan nasi lemak di negaranya.

Saking gemarnya dengan nasi lemak di Malaysia, Darshen bahkan rela terbang ke Kuala Lumpur pada pukul 6 pagi hanya untuk menikmati hidangan tersebut. Perjalanan udara dari Singapura ke Kuala Lumpur sendiri hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Begitu tiba, ia langsung menuju restoran Village Park, yang terkenal dengan sajian nasi lemaknya yang menggugah selera.

Menurut Darshen, nasi lemak di restoran tersebut adalah yang paling enak yang pernah ia coba. Ia pertama kali mencicipinya pada Oktober 2023 dan langsung jatuh hati dengan kelezatan rasanya.

“Ini adalah nasi lemak terbaik yang pernah saya makan dalam hidup saya. Saya benar-benar merindukan nasi lemak ini setelah kembali ke Singapura,” ujar Darshen.

Karena kecintaannya terhadap nasi lemak ini, ia bahkan berencana untuk kembali lagi ke Kuala Lumpur demi menikmatinya, sekaligus menjelajahi berbagai restoran lain yang menyajikan nasi lemak di Malaysia.

Perdebatan mengenai asal-usul nasi lemak kerap muncul antara warga Malaysia dan Singapura. Beberapa netizen dari kedua negara mengklaim bahwa hidangan ini berasal dari negara mereka masing-masing. Namun, jika merujuk pada sejarahnya, nasi lemak memang dikenal sebagai makanan tradisional khas Malaysia.